
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuasin melaksanakan pengecekan kualitas air kolam budidaya ikan lele pada sarana asimilasi dan edukasi warga binaan, Jumat (02/01/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan keberlangsungan program pembinaan kemandirian di bidang perikanan serta menjaga kesehatan ikan lele yang dibudidayakan.
Dari hasil pengukuran yang dilakukan, diketahui tingkat keasaman (pH) air kolam berada pada angka 6,37. Kondisi tersebut dinilai masih berada dalam batas ideal untuk pertumbuhan ikan lele, sehingga mendukung proses pemeliharaan secara optimal. Selain itu, hasil pemantauan menunjukkan tingkat kematian ikan sebesar 0 persen, yang menandakan pengelolaan kolam berjalan dengan baik dan sesuai standar budidaya.
Melalui pengelolaan yang konsisten dan terukur, Lapas Kelas IIA Banyuasin menargetkan hasil panen ikan lele mencapai 1.000 kilogram pada minggu kedua bulan Januari 2026. Program ini tidak hanya bertujuan mendukung ketahanan pangan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran dan pembekalan keterampilan bagi warga binaan agar memiliki kemampuan produktif yang bermanfaat saat kembali ke masyarakat.
Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banyuasin, Tetra Destorie, menyampaikan bahwa pengecekan kualitas air kolam ikan lele dilakukan secara rutin untuk memastikan keberhasilan program pembinaan kemandirian warga binaan. “Pengukuran pH air kolam menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan ikan. Dengan hasil pH 6,37 dan tingkat kematian ikan 0 persen, ini menunjukkan bahwa pengelolaan budidaya lele di Lapas Kelas IIA Banyuasin berjalan dengan baik dan sesuai standar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Tetra Destorie menambahkan bahwa program budidaya ikan lele ini merupakan bagian dari sarana asimilasi dan edukasi yang memberikan nilai tambah bagi warga binaan. “Kami menargetkan panen sebesar 1.000 kilogram pada minggu kedua Januari 2026. Diharapkan melalui kegiatan ini, warga binaan tidak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan, tetapi juga memperoleh keterampilan dan pengalaman yang dapat menjadi bekal kemandirian setelah selesai menjalani masa pidana,” pungkasnya.